Sore ini, Bogor diguyur hujan. Alhamdulillah. Namun alangkah
malangnya saya tidak membawa payung. Hmm.. by the way saya nggak bawa payung
bukan karena lupa melainkan payung lipatnya rusak, padahal baru saya beli. Aih,
nyebelin banget emang. Nggak akan lagi-lagi deh saya beli payung lipat lima,
cepet rusak. Ngomong-ngomong payung jadi keinget lagi kan sama payung pink
kesayangan saya yang hilang sewaktu saya study tour ke Yogya. Yang itu juga
nyebelin banget. Jadi dalam kurun waktu 3 bulan ini udah menghabiskan ratusan
ribu cuma buat beli payung, oke nggak apa-apa.
Balik lagi ke pokok cerita, jadi tuh hujannya semakin lebat.
Saya yang sedang naik angkot perumahan pun
berniat untuk berhenti dahulu di salah satu toko untuk lagi-lagi, membeli
payung. Karena nggak mau ditunda-tunda lagi dan takutnya nanti malah lupa,
jadilah saya berhenti di depan toko dan hujan-hujanan sedikit untuk sampai ke
toko. Sesampainya di toko, eh, ternyata stok payung lipatnya sedang habis. Yang
ada hanya payung biasa yang panjang-panjang banget itu lho. Kalau itu mah di
rumah juga banyak.
Akhirnya, saya memutuskan untuk menunggu hujan reda dan
setelahnya saya akan ke toko yang lain untuk membeli payung itu. Tekad saya
satu “pokoknya gue pulang harus bawa payung. Nggak mau tau, udah ujan-ujanan
gini.” haha begitulah kira-kira waktu itu. Agak ambis gitu ya? Padahal cuma
masalah sepele, hm. Saya mah emang gitu sih orangnya.
Sewaktu menunggu hujan reda, ada seorang anak kecil yang
wajahnya mirip sekali dengan seseorang. Ya Allah, ternyata itu adalah adiknya
teman SMP saya. Sudah besar tapi tetap kecil, lho? Ya pokoknya gitu lah.
Sesekali ia menengok-negok ke belakang
untuk melihat saya. Bukan, ini beneran kok, bukan saya yang geer. Kelas berapa
ya dia sekarang? Mungkin kelas 3 atau 4 SD kali ya saya lupa. Pokoknya, hadirmu
telah mengingatkanku pada kakakmu, dik. Haha, lupakan.
Tidak lama setelah itu, kepala sekolah SMP-ku berhenti di
toko. Mungkin beliau ingin membeli sesuatu, yaiyalah. Rupanya beliau agak kaget
melihat saya sedang berdiri mematung di depan toko seorang diri. Haduh alay
banget yha. Kemudian beliau menanyakan alasan kehadiranku di depan toko saat
itu. Dan berlanjut pada pertanyaan mengenai kelancaran studiku. Alhamdulillah,
senang sekali rasanya. Bisa bertemu lagi dengan seseorang yang biasanya selalu
menemani hari-hariku *ciee Ustadz ciee*. Seseorang yang banyak sekali
memberikan ilmunya pada saya. Yah, walaupun hanya perbincangan singkat dan
ringan, tapi itu membuatku bahagia dan bersyukur. Semoga Allah selalu
merahmatimu, Ustadz.
Nah, yang ini nih yang bikin saya super duper kaget. Padahal
mah nggak juga, sih. Jadi tuh saya melihat seorang anak laki-laki berseragam
SMP sedang berjalan menerjang hujan tanpa menggunakan payung. Dan sepertinya
wajahnya tidak asing bagi saya. Ya, dia mirip Gilang, adik kelasku dulu. Tapi
saya tidak begitu yakin. Sebab, yang saya tau Gilang itu sekolahnya boarding.
Tapi ternyata si anak SMP ini juga ngeliatin saya dengan tatapan “kayaknya gua
kenal, nih”. Eh, dia lewatin saya gitu aja. Eh tapi dia berhenti sebentar dan
yang membuat saya ingin ketawa adalah dia bilang (ngomong sendiri), “ eh,
tunggu dulu.” Kemudian ia berbalik dan nyamperin saya.
“Ini kak Pipit, eh Pitri, ya?”
“Kak Putri”
“Eh iya-iya. Apa kabar ka?”
“Alhamdulillah baik, de. Kamu pindah ke DU?”
“Iya nih, Kak. Balik lagi, hehe. Kalo kakak sekarang dimana?”
“Di SMAN 5 Bogor.”
“Wah, mantep-mantep. Kak, aku duluan ya. Dah”
“Iyaa”
Ya, begitulah kira-kira obrolan singkat kami. Gilang sudah
besar sekarang. Semakin tinggi dan tampan. Jadi gini cerita sedikit tentang
Gilang. Di sekolah saya dulu, ada SMPIT dan SDIT. Jarak gedungnya pun
berdekatan. Itu memungkinkan kami para siswa SMP selalu berinteraksi dengan
para siswa SD. Waktu saya kelas 7, Gilang kelas 4. Entah bagaimana awalnya saya
bisa dekat dengannya. Yang jelas saya memiliki adik-adik lucu nan imut pada
kala itu, Gilang dan teman-temannya.
Sewaktu istirahat Gilang dan temannya, Raihan, selalu
mendatangi kelas saya. Ya, untuk sekedar ngajak bermain atau makan bareng.
Lucu, ya, waktu kelas 7 tuh saya lebih sering main sama anak SD. Nggak tau kenapa,
anak-anak kecil pada gampang suka sama saya. Kalau jam makan siang biasanya
mereka berbondong-bondong datang ke saya, ingin makan bareng kak Putri
katanya. Sampai-sampai sempat guru saya,
Pak Aditya bilang, “wah, ini adik-adiknya Kak Putri makan bareng terus, ya.”
Ah, rasanya kangen sekali kalau mengingat masa-masa itu.
Sekarang apa kabar mereka? Biasanya dulu ada yang ngechat saya di facebook.
Nanya kak Putri lagi apa, kak Putri kenapa nggak masuk (kalau saya tidak masuk
sekolah). Kakak kangen sama kalian semua, Dik. Raihan, Gilang, Bramantio, Aldi,
Ryan, dan semuanya.
Setelah pertemuan dengan Gilang tadi hujannya mulai reda.
Tidak begitu deras, tapi tetap lebat, lho? Ya pokoknya saya berlari menjangkau
toko selanjutnya sambil hanyut bersama kenangan. Hujan ini mengingatkan saya
pada kenangan-kenangan itu. Seru, bisa merasakan hujan-hujanan lagi. Tapi kali
ini telah berseragam putih abu. Everything has changed.
And finally, I got it. My umbrella. My sweety purple
umbrella yang sangat unyu seperti pemiliknya ini, haha. Akhirnya tekad saya
tadi terbayar sudah, ya. Berkat perjuangan mendapatkan payung ini saya bertemu
dengan orang-orang tadi. Yang kembali mengingatkan saya tentang masa-masa SMP
saya. Allhamdulillah, segala puji bagi Allah yang sudah dengan indahnya
merencanakan semua ini.
Maaf kalau ceritanya kepanjangan dan garing atau apalah.
Intinya, jangan pernah membenci hujan ya teman-teman. Jangan pernah bilang, “Yah,
hujan...” atau “Aduh, ujan segala, deh.” Hujan itu adalah rahmat dari Allah
SWT. Jika kita mencela rahmat Allah, berarti kita tidak bersyukur. Ingat selalu
jika kita bersyukur, maka akan Allah tambah nikmat itu. Namun jika kita kufur,
sesungguhnya azab Allah sangat pedih.
Syukran katsiiran atas kesediaannya membaca cerita aneh ini
sampai akhir. Sampai jumpa!