Senin, 18 April 2016

Hujan yang Membawa Kenangan

Sore ini, Bogor diguyur hujan. Alhamdulillah. Namun alangkah malangnya saya tidak membawa payung. Hmm.. by the way saya nggak bawa payung bukan karena lupa melainkan payung lipatnya rusak, padahal baru saya beli. Aih, nyebelin banget emang. Nggak akan lagi-lagi deh saya beli payung lipat lima, cepet rusak. Ngomong-ngomong payung jadi keinget lagi kan sama payung pink kesayangan saya yang hilang sewaktu saya study tour ke Yogya. Yang itu juga nyebelin banget. Jadi dalam kurun waktu 3 bulan ini udah menghabiskan ratusan ribu cuma buat beli payung, oke nggak apa-apa.

Balik lagi ke pokok cerita, jadi tuh hujannya semakin lebat. Saya yang sedang naik angkot perumahan  pun berniat untuk berhenti dahulu di salah satu toko untuk lagi-lagi, membeli payung. Karena nggak mau ditunda-tunda lagi dan takutnya nanti malah lupa, jadilah saya berhenti di depan toko dan hujan-hujanan sedikit untuk sampai ke toko. Sesampainya di toko, eh, ternyata stok payung lipatnya sedang habis. Yang ada hanya payung biasa yang panjang-panjang banget itu lho. Kalau itu mah di rumah juga banyak.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menunggu hujan reda dan setelahnya saya akan ke toko yang lain untuk membeli payung itu. Tekad saya satu “pokoknya gue pulang harus bawa payung. Nggak mau tau, udah ujan-ujanan gini.” haha begitulah kira-kira waktu itu. Agak ambis gitu ya? Padahal cuma masalah sepele, hm. Saya mah emang gitu sih orangnya.

Sewaktu menunggu hujan reda, ada seorang anak kecil yang wajahnya mirip sekali dengan seseorang. Ya Allah, ternyata itu adalah adiknya teman SMP saya. Sudah besar tapi tetap kecil, lho? Ya pokoknya gitu lah. Sesekali ia  menengok-negok ke belakang untuk melihat saya. Bukan, ini beneran kok, bukan saya yang geer. Kelas berapa ya dia sekarang? Mungkin kelas 3 atau 4 SD kali ya saya lupa. Pokoknya, hadirmu telah mengingatkanku pada kakakmu, dik. Haha, lupakan.

Tidak lama setelah itu, kepala sekolah SMP-ku berhenti di toko. Mungkin beliau ingin membeli sesuatu, yaiyalah. Rupanya beliau agak kaget melihat saya sedang berdiri mematung di depan toko seorang diri. Haduh alay banget yha. Kemudian beliau menanyakan alasan kehadiranku di depan toko saat itu. Dan berlanjut pada pertanyaan mengenai kelancaran studiku. Alhamdulillah, senang sekali rasanya. Bisa bertemu lagi dengan seseorang yang biasanya selalu menemani hari-hariku *ciee Ustadz ciee*. Seseorang yang banyak sekali memberikan ilmunya pada saya. Yah, walaupun hanya perbincangan singkat dan ringan, tapi itu membuatku bahagia dan bersyukur. Semoga Allah selalu merahmatimu, Ustadz.

Nah, yang ini nih yang bikin saya super duper kaget. Padahal mah nggak juga, sih. Jadi tuh saya melihat seorang anak laki-laki berseragam SMP sedang berjalan menerjang hujan tanpa menggunakan payung. Dan sepertinya wajahnya tidak asing bagi saya. Ya, dia mirip Gilang, adik kelasku dulu. Tapi saya tidak begitu yakin. Sebab, yang saya tau Gilang itu sekolahnya boarding. Tapi ternyata si anak SMP ini juga ngeliatin saya dengan tatapan “kayaknya gua kenal, nih”. Eh, dia lewatin saya gitu aja. Eh tapi dia berhenti sebentar dan yang membuat saya ingin ketawa adalah dia bilang (ngomong sendiri), “ eh, tunggu dulu.” Kemudian ia berbalik dan nyamperin saya.

“Ini kak Pipit, eh Pitri, ya?”
“Kak Putri”
“Eh iya-iya. Apa kabar ka?”
“Alhamdulillah baik, de. Kamu pindah ke DU?”
“Iya nih, Kak. Balik lagi, hehe. Kalo kakak sekarang dimana?”
“Di SMAN 5 Bogor.”
“Wah, mantep-mantep. Kak, aku duluan ya. Dah”
“Iyaa”

Ya, begitulah kira-kira obrolan singkat kami. Gilang sudah besar sekarang. Semakin tinggi dan tampan. Jadi gini cerita sedikit tentang Gilang. Di sekolah saya dulu, ada SMPIT dan SDIT. Jarak gedungnya pun berdekatan. Itu memungkinkan kami para siswa SMP selalu berinteraksi dengan para siswa SD. Waktu saya kelas 7, Gilang kelas 4. Entah bagaimana awalnya saya bisa dekat dengannya. Yang jelas saya memiliki adik-adik lucu nan imut pada kala itu, Gilang dan teman-temannya.

Sewaktu istirahat Gilang dan temannya, Raihan, selalu mendatangi kelas saya. Ya, untuk sekedar ngajak bermain atau makan bareng. Lucu, ya, waktu kelas 7 tuh saya lebih sering main sama anak SD. Nggak tau kenapa, anak-anak kecil pada gampang suka sama saya. Kalau jam makan siang biasanya mereka berbondong-bondong datang ke saya, ingin makan bareng kak Putri katanya.  Sampai-sampai sempat guru saya, Pak Aditya bilang, “wah, ini adik-adiknya Kak Putri makan bareng terus, ya.”

Ah, rasanya kangen sekali kalau mengingat masa-masa itu. Sekarang apa kabar mereka? Biasanya dulu ada yang ngechat saya di facebook. Nanya kak Putri lagi apa, kak Putri kenapa nggak masuk (kalau saya tidak masuk sekolah). Kakak kangen sama kalian semua, Dik. Raihan, Gilang, Bramantio, Aldi, Ryan, dan semuanya.

Setelah pertemuan dengan Gilang tadi hujannya mulai reda. Tidak begitu deras, tapi tetap lebat, lho? Ya pokoknya saya berlari menjangkau toko selanjutnya sambil hanyut bersama kenangan. Hujan ini mengingatkan saya pada kenangan-kenangan itu. Seru, bisa merasakan hujan-hujanan lagi. Tapi kali ini telah berseragam putih abu. Everything has changed.

And finally, I got it. My umbrella. My sweety purple umbrella yang sangat unyu seperti pemiliknya ini, haha. Akhirnya tekad saya tadi terbayar sudah, ya. Berkat perjuangan mendapatkan payung ini saya bertemu dengan orang-orang tadi. Yang kembali mengingatkan saya tentang masa-masa SMP saya. Allhamdulillah, segala puji bagi Allah yang sudah dengan indahnya merencanakan semua ini.

Maaf kalau ceritanya kepanjangan dan garing atau apalah. Intinya, jangan pernah membenci hujan ya teman-teman. Jangan pernah bilang, “Yah, hujan...” atau “Aduh, ujan segala, deh.” Hujan itu adalah rahmat dari Allah SWT. Jika kita mencela rahmat Allah, berarti kita tidak bersyukur. Ingat selalu jika kita bersyukur, maka akan Allah tambah nikmat itu. Namun jika kita kufur, sesungguhnya azab Allah sangat pedih.

Syukran katsiiran atas kesediaannya membaca cerita aneh ini sampai akhir. Sampai jumpa!




Minggu, 17 April 2016

SMPIT Dinamika Umat, tempat dimana pondasi itu dikuatkan

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Haiii..bertemu lagi di tulisan saya kali ini. Semoga kita semua selalu dalam rahmat dan karunia Allah SWT. Aamiin Allahumma Aamiin.

Oke, kali ini saya mau cerita-cerita tentang pengalaman pribadi saya. Jadi, saya adalah lulusan SMP islam terpadu yang nggak begitu terkenal di kabupaten Bogor. Disana saya dididik dan dibina dengan dasar-dasar agama yang begitu kuat. Saya sangat bersyukur Allah telah menempatkan saya disana. Karena kalau tidak, wallahu a'lam akan jadi seperti apa saya ini.

SMP saya ini namanya SMPIT Dinamika Umat. Saya adalah angkatan kedua di sekolah ini. Kebayang dong, masih baru banget. Sekolahnya nyaman, asri, dan terletak di bukit. Di sekolah ini, saya mendapat banyak sekali pengalaman dan ilmu pengetahuan tentunya. Khususnya pengetahuan agama. Sebelumnya memang saya sudah dikenalkan dengan nilai-nilai agama sejak kecil oleh orang tua. Tapi disini, pondasi yang sebelumnya sudah dibangun menjadi lebih dikuatkan. Hingga akhirnya saya sadar bahwa nilai-nilai agama itu harus kita junjung tinggi. Karena sebenarnya apa tugas kita di bumi ini? Tidak lain adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Untuk beribadah kepada Tuhan semesta alam, Allah SWT.

Di sekolah ini, saya dibina dalam menghafal Al-Qur'an. Setiap hari, dari mulai terpaksa, lama-lama terbiasa, dan akhirnya timbul rasa senang. Timbul rasa bahagia. Bermain bersama teman bukan ngerumpi nggak jelas. Tapi saling berlomba mengulang hafalan. Tebak-tebakan melanjutkan ayat. Ah, seru sekali rasanya. Dan, ketika ujian tahfizh datang, saya dengan teman-teman yang lain resah dan galau nggak jelas. Rasanya takut, takut nggak lulus. Apalagi kalau sudah tiba waktunya mabit (malam bina tauhid). Setelah sholat subuh biasanya ada beberapa yang maju ke depan untuk dites langsung oleh ketua yayasan kami. Dan alangkah malangnya, saya selalu disebut. Rasanya jarang Putri Cemfani tidak disuruh maju. Disaat saya maju pun tidak selalu lancar, kadang ada mogoknya. Malu, tapi lama-kelamaan mulai terbiasa. Saya justru bersyukur selalu dipanggil kedepan karena itu membuat saya jadi sering muroja'ah. Karena, hafal kaji karena diulang, bukan?

Sebenarnya. masih banyak lagi pengalaman-pengalaman keren lainnya yang saya dapat di sekolah ini. Tapi mungkin untuk kali ini hanya itu saja yang saya bagikan. Jadi intinya, kita harus membangun pondasi dengan pilar-pilar agama yang kuat. Hidup jangan terlalu bebas. Ingat selalu apa misi utama kita hidup di dunia yang fana ini. Sesungguhnya kita datang dari Allah dan akan kembali pada-Nya. Maka persiapkanlah bekal kita sebaik mungkin. Jangan terlalu terlena dengan tempat persinggahan ini.

Semoga bermanfaat. Yang benar datangnya dari Allah, dan yang salah itu murni kekhilafan saya.

Wallahu a'lam bishawab.


BLOG Baru... Alhamdulillah

Assalamu'alaikum wr. wb.

Hallo... kenalin nama saya Putri Cemfani. Saat ini saya sedang menempuh jenjang SMA di salah satu SMA negeri terkenal di kota Bogor. Ya, SMAN 5 Bogor. Kelas XI IPA C yang terkenal ramai dan receh. Ya, nanti akan saya jelaskan lagi mengenai receh di posting-an lain. Well, jadi ini tuh bukanlah blog pertama saya. Sebelumnya juga pernah buat, dan dengan nama yang sama. Tapi ya gitu belum pernah diisi. Nah, sekarang saya akan coba aktif menulis di blog ini. Menulis memang salah satu hobi saya. Tapi ya nggak pernah disalurkan.  Sekarang akan mencoba menyalurkannya melalui blog ini. Harapannya sih bisa menginsprasi dan memberi manfaat kepada para pembacanya. Aamiin. Hehe.

Semoga saya bisa istiqomah menulis dan berbagi cerita di blog ini. Dan semoga tulisannya juga bukan yang asal tulis, tapi juga bermanfaat. Udah deh segitu dulu. Ini cuma permulaan aja sih ya, jadi ya gitu doang. By the way, terimakasih yang sudah mau berkunjung ke blog saya. Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Wassalamu'alaikum wr. wb.